Ini Potensi Deviden dari Freeport, Inalum Beli Saham Pakai Global Bond Alias Hutangan Asing

  • Whatsapp
Orias Petrus Moedak, Direktur Keuangan Inalum (foto : Net)
banner 468x60

SERULING.ID— Dengan komposisi saham sebelumnya 9,36%, deviden yang diterima pemerintah selama puluhan tahun hanya sekitar 1,3 Triliun.

Namun dengan adanya proses akuisisi saham PT. Freeport oleh Inalum belakangan ini dimana saham PT Inalum bersama Pemerintah Provinsi Papua mencapai 51,23%, maka potensi deviden yang akan diterima oleh pemerintah makin gendut mencapai US$ 1 miliar – US$ 1,3 miliar.

“Tahun 2022 kita akan dapat US$ 1,3 miliar , lalu tahun 2023 sebesar US$ 1 miliar sampai 2041. Untuk tahun 2018 sudah dapat US$ 180 juta dan tahun 2019 dapat US$ 470 juta”. Kata Orias Petrus Moedak, Direktur Keuangan Inalum dalam wawancara dengan KONTAN.ID, Selasa (23/1/2020).

Dimana menurutnya potensi deviden yang akan diterima jika di bandingkan US$3,85 Miliar yang akan di setorkan oleh Inalum ke PT Freeport masih lebih menggiurkan dan menguntungkan bagi pemerintah dan negara jika di banding sebelumn- sebelumnya.

Sebelumnya, Ahmad Riza Patria, dalam KOMPAS (22/12/2018) sangat menyayangkan karena pembayaran akuisisi saham PT. Freeport dengan global bond, alias duit pinjaman dari asing.

“Orang bilang ini hebat, justru ini masalah. Kenapa? Karena Freeport itu yang dibayar Inalum menggunakan global bond, artinya utang dari asing. Sama aja dimiliki oleh asing, dibayar pakai dollar AS. Kita dibodohi aja,” kata politikus Gerindra ini di Jakarta, Sabtu (22/12/2018).

Menurut Ahmad Riza Patria, sejumlah cara bisa digunakan pemerintah untuk membayar transaksi tersebut. Yang pertama dengan memakai dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penyertaan BUMN, tiga umpamanya domestic bond, empat mobilisasi seluruh rakyat beli saham Inalum.

“Saya kira orang-orang Papua yang kaya-kaya itu beli, di Jawa beli, di Kalimantan beli, dan beli semua,” sebut dia menyayangkan mestinya pemerintah memobilisasi menggunakan domestic bond saja.

Sebagaimana di lansir CNN Indonesia, (23/1/2020), hutang holding BUMN tambang Mining Industry Indonesia (MIND ID) saat ini meroket hingga 378 % pada kuartal III 2019 atau mencapai Rp. 78,3 Triliun.

“Peningkatan utang terbesar terjadi di akhir 2018, kami melakukan pinjaman signifikan sebesar US$4 miliar setara kurang lebih Rp56 triliun dengan kurs Rp14 ribu dalam rangka penyelesaian transaksi pembelian saham Freeport,” kata Orias Petrus Moedak, Direktur Keuangan Inalum di Komisi VII DPR, Selasa (22/1), di kutip dari CNN Indonesia.

Lonjakan hutang di holding tambang berbanding terbalik dengan laba bersih yang justru merosot 89% menjadi hanya Rp 800 miliar (yoy), hal itu disebabkan karena bertambahnya biaya operasional perusahaan. (ary/seruling)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *