Warga Kolam Kangkung Yoka Tolak Batching Plant PT. Adhi Karya Beton

  • Whatsapp
Tampak areal batching plant milik PT. Adhi Karya Beton yang di tolak warga RT 4 dan RT 6 Kolam Kangkung Yoka, dan beberapa bangunan rumah warga yang rusak mulaidari rusak ringan hingga rusak parah. (Foto : seruling.id)
Tampak areal batching plant milik PT. Adhi Karya Beton yang di tolak warga RT 4 dan RT 6 Kolam Kangkung Yoka, dan beberapa bangunan rumah warga yang rusak mulaidari rusak ringan hingga rusak parah. (Foto : seruling.id)
banner 468x60

SERULING.ID—Puluhan warga masyarakat yang bermukim di RT IV dan RT VI Kompleks Kolam Kangkung Yoka menyatakan keberatan akan kehadiran Batching Plan milik PT. Adhi Karya Beton yang sudah beroperasi sejak bulan Agustus 2019 lalu.

“kami minta DPRD dan Pemerintah Kota melihat perizinan batching plant yang ada ini, karena kami duga tidak memiliki perizinan baik izin operasional maupun izin lingkungan, kalau ada perizinan sementara mungkin harus di tinjau bila perlu dihentikan aktifitasnya, karena keberadaan mereka rugikan warga di sini” kata Amri salah satu korban yang mengaku rumahnya retak – retak bahkan gypsum plafon pada rontok semua, Jumat (24/1/2020).

Dalam release yang diterima oleh SERULING.ID, puluhan warga yang bermukim di kompleks Kolam Kangkung sepakat menolak kehadiran batching plant tersebut, dan berharap pemiliknya PT. Adhi Karya Beton bisa mencari lokasi lain yang jauh dari permukiman.

“kami tolak, sekalipun mereka buat jalan yang tidak lewati perumahan warga, tapi lokasi batching plant nya kan masih di sini, untuk jangka panjang banyak keruksakan lingkungan yang akan kami derita, apalagi bila tidak ada perizinannya, nyata – nyata melanggar, mestinya pemkot tegas hentikan aktifitas batching plant”, keluh seorang ibu rumah tangga lainnya.

Menurut warga penolakan tersebut di dasarkan pada beberapa hal diantaranya, adalah keberadaan batching plant yang patut di duga tak berizin itu menimbulkan sejumlah polusi bagi lingkungan.

“selain kerugian materiil keruksana bangunan, juga terjadi  polusi udara, polusi suara, polusi air tanah, bahkan setahu kami batching plant ada limbah B3-nya juga, jadi sangat menggangu sekali buat warga disini, kerugian kami bukan materiil saja, immaterial juga, tidak ada ketenangan warga”, tegas Amri alasan warga melakukan penolakan terhadap batching plant PT. Adhi Karya Beton tersebut.

Salah satu warga terdampak lainnya, Pak Roland menjelaskan, bahwa awal kehadiran PT. Adhi Karya Beton di kompleks Kolam Kangkung katanya mau membangun perumahan, atau mess karyawan, ternyata buat batching plant dan sejak berdiri hingga kini pemilik tidak pernah berkomunikasi atau meminta persetujuan warga setempat.

“kami akan buat petisi ke DPRD Kota dan Pemkot, waktu dekat ini kami sampaikan, agar bisa di sidak, kalau tidak ada perizinannya kami minta di stop aktifitasnya, dan segera memindahkan alat – alatnya dari kompleks sini”, kata Roland yang di damping sejumlah warga, Jumat (24/1/2020).

Sebagian besar warga mengeluhkan bahwa aktivitas alat berat (truk molen bermuatan penuh) yang wara – wiri di jalan kompleks di depan rumah – rumah warga menyebabkan kerusakan pada fisik bangunan diantaranya keretakan bangunan, dari ringan hingga keretakan parah, bahkan gypsum – gypsum bangunan pada rontok semua karena getaran yang di timbulkan aktifitas alat berat tersebut.

Bahkan juga terjadi polusi suara, dimana aktifitas alat berat baik di dalam lokasi batching plant maupun yang melalui areal permukiman menimbulkan polusi kebisingan yang patut di duga melewati ambang batas, sehingga mengganggu kenyamanan dan ketenangan warga, apalagi yang memiliki anak kecil, tidak bisa istirahat tenang karena kebisingan.

Kerugian lainnya adalah polusi udara, aktifitas di lokasi batching plant menyebabkan meningkatnya volume partkel debu yang mengganggu pernafasan warga sekitar, walaupun ada upaya PT. Adhi Karya untuk melakukan penyiraman tetapi masih belum atasi masalah.

“ini yang perlu kita antisipasi, limbah B3-nya, bisa merusak ekosistem air tanah dan Danau Sentani, sejauh pengamatan kami belum ada mekanisme untuk penanganan limbah B3-nya, untuk jangka panjang limbah B3 akan merusak lingkungan sekitar dan ekosistem Danau Sentani, mengingat lokasi batching plant tidak jauh dari tepian danau Sentani”, kata Amri lagi.

Penanggung Jawab PT, Adhi Karya Beton, Pak Rusli yang di hubungi melalui SMS oleh SERULING.ID, Minggu (26/01/2020) ketika di konfirmasi membantah bila pembangunan batching plant miliknya di tolak oleh warga.

“bukan di tolak warga, tetapi mereka menginginkan jalannya di pindah”, jawab Pak Rusli melalui SMS.

Ketika di tanyakan soal perizinan batching plan yang sudah di operasikan padahal di duga belum mengantongi izin operasional maupun lingkungan, Pak Rusli tidak menjawab secara tegas, tetapi melempar masalah ke pemerintah.

“mohon konfirmasi di instansi terkait pak, soal perizinan, biar jelas”, jawabnya.

Ketika di kejar apakah itu berarti PT. Adhi Karya belum mengantongi perizinannya, dan apakah PT. Adhi Karya dari awal berdiri sudah meminta persetujuan warga, hingga berita ini di naikkan, Pak Rusli tidak menjawab konfirmasi yang di kirimkan SERULING.ID.

“untuk jangka pendek, memang kita minta mereka tidak melalui depan rumah kami lagi, tapi untuk jangka panjang, kami tolak pembangunan batching plant di sini, karena polusi yang di timbulkan untuk warga sini, bukan hanya kerusakan bangunan, tapi untuk jangka panjang mereka timbulkan polusi suara, polusi udara, bahkan kemungkinan pencemaran air tanah dan Danau Sentani karena batching plant ada limba B3- nya, jadi kita minta selesaikan satu – satu dulu”, kata Roland, salah seorang warga yang mengaku rumahnya cukup banyak yang rusak.

Warga juga menilai PT. Adhi Karya hanya janji manis, karena sejak 2019 sudah dua kali pertemuan, hanya katanya awal Januari aktifitas mereka berhenti, nyatanya sampai sekarang dari pagi sampai tengah malam, mobil alat berat masih wara – wiri. (ary/seruling)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *